Kamis, 13 September 2012

Organisasi atau akademik?


Hidupku semakin matang ketika aku memasuki dunia perkuliahan. Hari-hariku terasa berat dan rasanya mulai suram.  Bagi anak2 pelajar mungkin mereka akan berpikir betapa asyiknya menjadi mahasiswa. Mahasiswa itu santai, bisa pulang cepat, bisa bolos kuliah lalu jalan-jalan.  Beda seperti pelajar yang pulang sesuai jadwal, ada ulangan, dan selalu dikasih Pr.
Jauh berbeda sebenarnya ketika seorang berubah menjadi mahasiswa, rasanya dunia terbalik 180 derajat.  Entah kenapa rasanya seperti itu khususnya mahasiswa kedokteran, apapun program studinya. Waktu terasa berputar sangat cepat, dunia teromang ambing. Walaupun kuliah anak-anak fk jam 8.00 beda seperti pelajar yang masuk sekolahnya 7.30 tapi seperti kayak orang kebakaran jenggot harus jam 05.00. Terburu-buru, tidak sempat sarapan, belum lagi tugas yang menumpuk seperti menulis laporan, memangalisa kasus, makalah, skill lab, praktikum dll. Waktu 24 jam itu rasanya tidak cukup bahkan untuk tidur siang sebentar pun.
Cerita itu berlaku untuk semua prodi di kedokteran. Berbeda lagi dengan mahasiswa yang aktif dalam organisasi. Berangkat pagi, pulang malam, hari minggupun waktunya istirahatpun harus rela dikorbankan untuk kegiatan organisasi. Seperti dikejar setan harus disibukan dengan hal-hal yang lumayan membosankan terkadang. Tapi untuk menjadi mahasiswa hebat, tidaklah seberapa. Semua harus bisa dikerjakan dengan ikhlas, dan mengambil manfaat dari setiap kegiatan. Semua butuh pengorbanan antara membagi waktu antara kuliah dan organisasi. Hmm, terkadang orang berpikir bahwa mahasiswa hebat adalah mahasiswa yang memiliki ipk tertinggi dengan nilai-nilai bagus. Padahal itu bukanlah tolak ukur menentukan sehebat mana dia melangkah. Dan itu sudah menjadi statement setiap orang bahwa IPK adalah segalanya, sehingga menyebabkan sebagian orang menganggap rendah hal-hal lain seperti organisasi. Mereka berpikir bahwa organisasi tidaklah penting,  hanya membuat capek dan menghabiskan waktu yang terbuang sia-sia. Salah dan salah ketika ada mahasiswa yang berpikir seperti itu.  Mereka yang belajar tanpa memperhatikan sekelilingnya malah mereka yang menyiakan waktu, mereka membuang kesempatan. Malahan mereka yang rajin belajar biasanya tidak bisa mengerjakan hal-hal lain, teman terbatas, komunikasi interpersonal pun kurang. Berbeda ketika kita berbicara dengan mahasiswa yang aktif di organisasi, mereka pandai dalam mengatur berbagai hal, masalah kecil saja aktifis kampus pandai mengatur waktu belajar , rapat dan istirahat. Apalagi ketika mengadakan acara-acara besar entah itu seminar lokal, seminar nasional, baksos, dll semua diatasi secara baik dan professional. Bukan hanya aktifis kampus, mereka juga bagus dalam akademik, nilai IPK Pun bahkan bisa comlaute. Itu luar biasa dan sangat membanggakan.
Ketika kita ditanya bagaimana sih mahasiswa berkarakter itu? apakah dia yang ipk tinggi at mereka yang sibuk diorganisasi???? Jawabnya adalah mereka yang akademisnya bagus dan organisasi juga bagus, artinya ada keseimbangan antara keduanya tanpa harus berpihak salah satu. Ketika kita berfikir organisasi hanyalah membuang waktu itu sangat salah besar, dari organisasi kita bisa mengambil manfaat dari sana. Kita bisa memiliki banyak teman baru, pengalaman baru, dan tentunya hal yang bermanfaat. Jadi bagi mereka yang umumnya menganggap rendah dan menyepelekan organisasi cobalah untuk melihat kedepan, jangan hanya melihat sekilas mata. Organisai bisa memudahkan ketika kita terjun ke dunia kerja, mungkin semuanya akan lebih mudah diatasi.
Mereka yang berpikiran ipk adalah segalanya, mungkin bisa tebersit niat untuk melakukan hal-hal curang, seperti membuat cacatan kecil dan menyontek. Hal itu sangatlah negative, dan sepertinya itu sangat tidak pantas ketika dikatakan IP menentukan karakter sesorang karena kecurangan bisa saja terjadi tanpa dketahui orang lain. Sehingga sayapun tidak percaya lagi dengan kepintaran jika dilihat dari IP saja.
Dan jangan menyalahkan juga mahasiswa yang nilainya jelek. Contoh salah satunya aku, yah aku. Aku bukan termasuk anak yang pandai, dan bukan juga anak yang bodoh. Entah kenapa serajin apapun aku belajar aku selalu mendapatkan nilai jelek. Entah kurang beruntung atau salah strategi. Padahal dulunya aku adalah anak yang pandai, semua guru sayang kepadaku. Karena aku termasuk anak yang dibanggakan disekolah, ketika dikirim mewakili lomba, aku selalu mendapatkan juara, yang mana derajat sekolah terangkat setinggi-tingginya saat itu. Tak heran jika guru-guru mengenal namaku. Dan untuk masalah pelajaran aku termasuk anak yang sangat cepat dalam menghafal dan mendapatkan rengking 3 besar selalu. Namaku cemerlang ketika masih sd, lebih tepatnya MDI Muhammadiyah bjm. Dan pada masa MtsN aku juga termasuk anak yang pandai. Bukannya sombong tetapi kita hanya membandingkan masa lalu dan sekarang. OKE KEMBALI KE TOPIK. Jadi saat itu aku termasuk anak yang disayangi juga karena prestasiku bagus, dan guru yang paling sayang sama aku adalah bapak guru bhs arab. Knp? Karena saat itu semua anak2 kelas 7 diminta menghapal kosokata arab sebanyak 50 kata, dan aku sanggup menghapal 250kata dalam waktu hanya seminggu berbeda dengan murid lain yang diberi tempo 3 bulan. Hahahaha! Luar biasaaaaa….
Dan waktu SMA, namaku termasuk populer disekolah, hahaa.. oya, apalagi ketika kelulusan kebentungan ada bersamaku, aku mendapatkan nilai tertinggi ke 3 ujian terbaik tingkat MAN Sekalsel. Dan juara 2 terbaik disekolah. Nama Devi Indah Pemata tertulis jelas dikoran halaman pertama sebelum pengumuman ujian esok hari. Berhubung aku sudah membaca Koran, aku joget-joget saja dan mengucapkan syukur. Semua terbelalak mata. Mukaku saat masa SMA terlihat santai, berbeda ketika masa SMP. Jadi tak heran ketika semuanya kagum sejadi-jadinya. Aku belajar bahkan rela bimbel sampai malam demi ujian nasional. Mereka yang lebih pintar dariku bermacam-macam cara mempunyai misi mendapatkan nilai tertinggi. Aku tak punya mimpi, lulus pun syukur bagiku. Kenyataannya tuhanlah yang menetukan,manusia hanya bisa berusaha.
Semua adalah proses ketika seseorang memilih kehidupan seperti apa yang dia inginkan. Tapi untuk keberuntungan kuliah sepertinya tidak, aku mendapatkan nilai jelek. Dan itu sangat menyakitkan bagiku. Apalagi ketika aku mati2an berusaha, tapi hasilnya nihil rasanya hidupku tidak ada artinya lagi, hancur berkeping-keping. Disisi lain walaupun nilaiku jelek, aku seorang yang aktif diorganisasi, aku aktif dalam bidang FSIM (Forum Studi Ilmiah Mahasiswa) dan Hippocampus (bidang jurnalistik). Aku cuma berharap, walaupun aku yang bodoh ini gagal dalam hal akademik, setidaknya aku punya pengalaman dibidang lain. Aku mau menunjukkan sisi baiknya aku, bahwa aku anak yang rajin, dan juga cerdas dalam mengatasi masalah dan urusan dan aku akan memanfaatkan pengalaman yang kudapatkan diorganisasi ini untuk bekalku suatu hari nanti J


OPERASI IMFAKSI


Hari ini tanggal 13 September 2012, saya juga harus melakukan operasi seperti banyak kasus gigi imfaksi lainnya. Sebenarnya saya sangat takut luar biasa melihat peralatan yang disiapkan begitu banyak, seperti halnya alat-alat perbengkelan menggunakan bor dan semacamnya.  Tapi ketakutan saya hilang melihat artikel dan blog mengenai bahaya imfaksi, melihat banyak komplikasi yang ditimbulkan, dan lebih parah  bisa menyebabkan tumor.
 Kapan saya mengetahui imfaksi?
Hal ini bermula ketika 3 bulan yang lalu, saya ingin cabut gigi karena gusi saya bengkak, akibat ada sisa akar gigi yang sejak kecil tidak dicabut, menyebabkan gusi saya bengkak, berdarah dan sakit luar biasa. Dokter praktek yang saya temui agak sedikit rempong dan sepertinya tidak professional, mungkin masih baru lulus jadi kurang mengerti. Dan belum diapa-apain saya sudah bayar mahal padahal tidak dilakukan tindakan apa-apa, Cuma dikasih resep biasa dan tidak mempan. Kemudian saya coba ke RS. Ratu Zaleha disana saya ditangani oleh perawat dan drg. Alexander. Tapi saya tidak boleh mencabut gigi yang gusinya bengkak sehingga saya cuma dikasih obat yang lumayan mahal karena lebih ampuh sih katanya dari obat sebelumnya yang saya minum, dan 3 hari kemudian setelah hilang bengkak mulailah dicabut sisa akar giginya. Perawat yang melihat semua gigi saya entah kenapa mulai memperhatikan gigi geraham bungsu bagian bawah, dia menanyakan apakah sakit? Saya berkata tidak. Apakah sering sakit kepala? Saya jawab kadang-kadang. Saya tidak begitu mengerti karena saya pikir sakit kepala itu mungkin berasal dari stress, namanya juga mahasiswa wajar lah saya pikir sering sakit kepala jadi saya tidak begitu mempermasalahkan.
Perawat itu pun mengatakan gigi saya imfaksi, dan beliau menyarankan untuk dicabut, Karena gigi imfaksi lumayan berbahaya karena menekan syaraf otak sehingga menimbulkan rasa sakit kepala, migrain dsb.
Setelah perbincangan itu perawat dan dokter mencabut sisa akar gigi kanan atas saya. Lalu saya pulang dan bercerita dengan teman calon dokter gigi yang kebetulan satu kontrakan dengan saya. Dia juga menyarankan saya untuk operasi saja. Namanya operasi yah saya takut, lalu saya mulai mencari artikel mengenai imfaksi, ternyata banyak hal-hal yang tidak kita sadari tapi berakibat fatal dengan kesehatan.
                Imfaksi itu adalah gigi molar (geraham) yang gagal untuk erupsi (tumbuh) abnormal secara tidak sempurna pada posisinya. Beberapa gangguan akibat gigi impaksi, seperti sakit kepala, telinga berdengung, sakit leher, infeksi, badan cepat lelah atau gejala-gejala lain pada tubuh bahkan berakibat kista dan tumor jika sudah parah. Nah daripada merasakan hal itu mending lebih baik jika gigi tersebut dicabut sedini mungkin agar tidak menimbulkan penyakit-penyakit yang pada akhirnya akan mengganggu kenyamanan.
Seminggu sebelum operasi,tepatnya hari kamis saya cek dulu kan ke Rs, lalu di rontgen dlu dan hasilnya begini



Seminggu berlalu hari kamis tgl 13 September 2012 tiba, jam 9. 30 saya sudah di Rs siap untuk dioperasi. Tak lupa untuk sarapan terlebih dahulu, karena takutnya pingsan akibat banyak pendarahan. Alatnya begitu banyak, dan bikin saya merinding. Apalagi suara bor yang berbunyi ngak ngik ngak ngik menambah nyali saya menjadi ciut x.x”
Sejam kemudian selesai. Apakah sakit? Ya gak dong kan dikasih obat bius, paling berasa dikit soalnya kan Cuma bius mulut, masih sadar, jadi berasa banget gigi kita ditarik-tarik. Tapi secara keseluruhan operasi berjalan gak sakit kok. So, bagi yang giginya imfaksi jangan takut dicabut, gpp lah berkorban bentar demi kesembuhan juga kan J
Hmmmm, abis operasi itu pipi bibir agak bengkak menggelembung, kaya orang abis berantem gitu lucu banget haha….tapi selama itu gak sakit paling agak menebal aja, mati rasa selama 3jam. Sesudah mulai normal, baru kerasa sakitnya, akibat efek obat bius yang mulai hilang, jadi berasa banget nyut-nyutan dibagian gusi yang dijahit. Oleh karena itu, itulah guna obat untuk mengurangi rasa nyeri. Obat yang saya minum itu Bellamox amoxicillin 500 mg, cataflam 50 mg, dan obat kumur Betadine, yah totalnya hampir 300.000 rupiah.
Operasi saya juga termasuk murah Cuma 325.000, dan biaya rontgen Cuma 18.000. Beruntung banget kan lumayan, melihat teman saya yang operasi kemarin harus bayar 3juta rupiah untuk 1 gigi di rumah sakit yang berbeda.
Kepala saya mulai terasa ringan setelah gigi imfaksi nya dicabut. Saya juga gak boleh makan nasi. Jadi saya cuma mengkonsumsi bubur, sereal, susu, dan obat-obatan. Mungkin sekitar seminggu saya harus begini karena itulah saran terbaik dari artikel untuk proses penyembuhan, melihat gusi yang masih sakit dijahit dengan benang belum sembuh pada lukanya, masih terus mengalami pendarahan yang lumayan lama. Setelah obat saya habis saya harus kembali ke RS untuk kontrol pasca operasi, dan harus lepas jahitan untuk tahap selanjutnya.
Agak lelah sih, karena energi yang kurang akibat tidak mengkonsumsi nasi, pendarahan yang sangat banyak dan rasa sakit di gusi membuat badan lemas, dan harus beristirahat total. Tidak boleh melakukan aktivitas berat. Beruntung saya masih kuliah kontrak jadi masih agak santai, dan besok libur saya bisa tidur panjang hehe. Sekarang saya tenang semuanya sudah selesai beres tinggal check up aja lagi ke RS. Dan mungkin sahabat saya akan menyusul operasi Karena katanya giginya miring 2 haha…maklum kurangnya pengetahuan membuat kita tidak tahu. Dan benar saja banyak orang yang tidak mengetahui gigi imfaksi ini termasuk saya sendiri awalnya.