Hidupku semakin matang ketika aku memasuki dunia perkuliahan.
Hari-hariku terasa berat dan rasanya mulai suram. Bagi anak2 pelajar
mungkin mereka akan berpikir betapa asyiknya menjadi mahasiswa. Mahasiswa itu
santai, bisa pulang cepat, bisa bolos kuliah lalu jalan-jalan. Beda seperti pelajar yang pulang sesuai
jadwal, ada ulangan, dan selalu dikasih Pr.
Jauh
berbeda sebenarnya ketika seorang berubah menjadi mahasiswa, rasanya dunia
terbalik 180 derajat. Entah kenapa
rasanya seperti itu khususnya mahasiswa kedokteran, apapun program studinya.
Waktu terasa berputar sangat cepat, dunia teromang ambing. Walaupun kuliah
anak-anak fk jam 8.00 beda seperti pelajar yang masuk sekolahnya 7.30 tapi
seperti kayak orang kebakaran jenggot harus jam 05.00. Terburu-buru, tidak
sempat sarapan, belum lagi tugas yang menumpuk seperti menulis laporan,
memangalisa kasus, makalah, skill lab, praktikum dll. Waktu 24 jam itu rasanya tidak
cukup bahkan untuk tidur siang sebentar pun.
Cerita
itu berlaku untuk semua prodi di kedokteran. Berbeda lagi dengan mahasiswa yang
aktif dalam organisasi. Berangkat pagi, pulang malam, hari minggupun waktunya
istirahatpun harus rela dikorbankan untuk kegiatan organisasi. Seperti dikejar
setan harus disibukan dengan hal-hal yang lumayan membosankan terkadang. Tapi
untuk menjadi mahasiswa hebat, tidaklah seberapa. Semua harus bisa dikerjakan
dengan ikhlas, dan mengambil manfaat dari setiap kegiatan. Semua butuh
pengorbanan antara membagi waktu antara kuliah dan organisasi. Hmm, terkadang
orang berpikir bahwa mahasiswa hebat adalah mahasiswa yang memiliki ipk
tertinggi dengan nilai-nilai bagus. Padahal itu bukanlah tolak ukur menentukan
sehebat mana dia melangkah. Dan itu sudah menjadi statement setiap orang bahwa
IPK adalah segalanya, sehingga menyebabkan sebagian orang menganggap rendah
hal-hal lain seperti organisasi. Mereka berpikir bahwa organisasi tidaklah
penting, hanya membuat capek dan
menghabiskan waktu yang terbuang sia-sia. Salah dan salah ketika ada mahasiswa yang
berpikir seperti itu. Mereka yang
belajar tanpa memperhatikan sekelilingnya malah mereka yang menyiakan waktu,
mereka membuang kesempatan. Malahan mereka yang rajin belajar biasanya tidak
bisa mengerjakan hal-hal lain, teman terbatas, komunikasi interpersonal pun kurang.
Berbeda ketika kita berbicara dengan mahasiswa yang aktif di organisasi, mereka
pandai dalam mengatur berbagai hal, masalah kecil saja aktifis kampus pandai
mengatur waktu belajar , rapat dan istirahat. Apalagi ketika mengadakan
acara-acara besar entah itu seminar lokal, seminar nasional, baksos, dll semua
diatasi secara baik dan professional. Bukan hanya aktifis kampus, mereka juga
bagus dalam akademik, nilai IPK Pun bahkan bisa comlaute. Itu luar biasa dan
sangat membanggakan.
Ketika
kita ditanya bagaimana sih mahasiswa berkarakter itu? apakah dia yang ipk
tinggi at mereka yang sibuk diorganisasi???? Jawabnya adalah mereka yang
akademisnya bagus dan organisasi juga bagus, artinya ada keseimbangan antara
keduanya tanpa harus berpihak salah satu. Ketika kita berfikir organisasi
hanyalah membuang waktu itu sangat salah besar, dari organisasi kita bisa
mengambil manfaat dari sana. Kita bisa memiliki banyak teman baru, pengalaman
baru, dan tentunya hal yang bermanfaat. Jadi bagi mereka yang umumnya
menganggap rendah dan menyepelekan organisasi cobalah untuk melihat kedepan,
jangan hanya melihat sekilas mata. Organisai bisa memudahkan ketika kita terjun
ke dunia kerja, mungkin semuanya akan lebih mudah diatasi.
Mereka
yang berpikiran ipk adalah segalanya, mungkin bisa tebersit niat untuk
melakukan hal-hal curang, seperti membuat cacatan kecil dan menyontek. Hal itu
sangatlah negative, dan sepertinya itu sangat tidak pantas ketika dikatakan IP
menentukan karakter sesorang karena kecurangan bisa saja terjadi tanpa dketahui
orang lain. Sehingga sayapun tidak percaya lagi dengan kepintaran jika dilihat
dari IP saja.
Dan
jangan menyalahkan juga mahasiswa yang nilainya jelek. Contoh salah satunya
aku, yah aku. Aku bukan termasuk anak yang pandai, dan bukan juga anak yang bodoh.
Entah kenapa serajin apapun aku belajar aku selalu mendapatkan nilai jelek.
Entah kurang beruntung atau salah strategi. Padahal dulunya aku adalah anak
yang pandai, semua guru sayang kepadaku. Karena aku termasuk anak yang
dibanggakan disekolah, ketika dikirim mewakili lomba, aku selalu mendapatkan
juara, yang mana derajat sekolah terangkat setinggi-tingginya saat itu. Tak
heran jika guru-guru mengenal namaku. Dan untuk masalah pelajaran aku termasuk
anak yang sangat cepat dalam menghafal dan mendapatkan rengking 3 besar selalu.
Namaku cemerlang ketika masih sd, lebih tepatnya MDI Muhammadiyah bjm. Dan pada
masa MtsN aku juga termasuk anak yang pandai. Bukannya sombong tetapi kita
hanya membandingkan masa lalu dan sekarang. OKE KEMBALI KE TOPIK. Jadi saat itu
aku termasuk anak yang disayangi juga karena prestasiku bagus, dan guru yang
paling sayang sama aku adalah bapak guru bhs arab. Knp? Karena saat itu semua
anak2 kelas 7 diminta menghapal kosokata arab sebanyak 50 kata, dan aku sanggup
menghapal 250kata dalam waktu hanya seminggu berbeda dengan murid lain yang
diberi tempo 3 bulan. Hahahaha! Luar biasaaaaa….
Dan
waktu SMA, namaku termasuk populer disekolah, hahaa.. oya, apalagi ketika
kelulusan kebentungan ada bersamaku, aku mendapatkan nilai tertinggi ke 3 ujian
terbaik tingkat MAN Sekalsel. Dan juara 2 terbaik disekolah. Nama Devi Indah
Pemata tertulis jelas dikoran halaman pertama sebelum pengumuman ujian esok
hari. Berhubung aku sudah membaca Koran, aku joget-joget saja dan mengucapkan
syukur. Semua terbelalak mata. Mukaku saat masa SMA terlihat santai, berbeda
ketika masa SMP. Jadi tak heran ketika semuanya kagum sejadi-jadinya. Aku
belajar bahkan rela bimbel sampai malam demi ujian nasional. Mereka yang lebih
pintar dariku bermacam-macam cara mempunyai misi mendapatkan nilai tertinggi.
Aku tak punya mimpi, lulus pun syukur bagiku. Kenyataannya tuhanlah yang
menetukan,manusia hanya bisa berusaha.
Semua
adalah proses ketika seseorang memilih kehidupan seperti apa yang dia inginkan.
Tapi untuk keberuntungan kuliah sepertinya tidak, aku mendapatkan nilai jelek.
Dan itu sangat menyakitkan bagiku. Apalagi ketika aku mati2an berusaha, tapi
hasilnya nihil rasanya hidupku tidak ada artinya lagi, hancur berkeping-keping.
Disisi lain walaupun nilaiku jelek, aku seorang yang aktif diorganisasi, aku
aktif dalam bidang FSIM (Forum Studi Ilmiah Mahasiswa) dan Hippocampus (bidang
jurnalistik). Aku cuma berharap, walaupun aku yang bodoh ini gagal dalam hal
akademik, setidaknya aku punya pengalaman dibidang lain. Aku mau menunjukkan
sisi baiknya aku, bahwa aku anak yang rajin, dan juga cerdas dalam mengatasi
masalah dan urusan dan aku akan memanfaatkan pengalaman yang kudapatkan
diorganisasi ini untuk bekalku suatu hari nanti J
